Buah Hati: Anugerah Terindah

Apa hal yang paling prinsipil dalam sebuah pernikahan? Saya katakan komitmen adalah nomor satu. Semacam ikatan kuat yang berlandaskan nilai religi saya rasa adalah hal utama yang tidak tergantikan. Namun bagi yang lain atau sebagian lainnya ada pula yang menganggap bahwa anak adalah yang nomor satu. Ya, tak dapat dipungkiri lagi bahwa kehadiran buah hati adalah laksana air di padang tandus. Lantas bagaimana jika buah hati tak kunjung tiba?

Kondisi masing-masing pasangan tidak akan sama dalam menghadapi problematika yang terjadi. Ada pasangan yang tetap bertahan karena adanya buah hati sebagai perekat. Untuk sebagian lainnya, ketidakhadiran buah hati tak jadi soal, mereka punya solusi,entah itu adopsi atau poligami dan sebagian lagi mengikhlaskan keadaan yang sudah jadi takdir. Sebagian lagi mereka kandas di tengah jalan dengan faktor ketidakhadiran ini sebagai pemicu,selain faktor lain tentunya.

Padahal kalau kita mau menilik kembali kehidupan sejarah manusia paling mulia di muka bumi ini pun, akan kita tahu bahwa anak bukanlah satu-satunya yang ingin dicapai dalam sebuah pernikahan. Bahkan do'a yang disyariatkan dalam pernikahan adalah do'a agar mendapat keberkahan. Dan bukan selainnya...

Jika Baik Saja Tidak Cukup, Haruskah Menjadi Mulia?

Judul tulisan saya kali ini mungkin agak aneh dan sulit dicerna pada sekali baca. Bukan maksud saya membuat Anda bingung, tidak sama sekali. Saya hanya ingin menyoroti bagaimana seseorang dalam kehidupan harus menghadapi keadaan yang kadang kala keadaan itu begitu memaksa dan membuat orang tertekan. Apa sebab ? Sebab ia harus melakukan atau memberi lebih atas sesuatu yang mungkin orang lain tak perlu lakukan sebab sudah dapat mencapainya dengan mudahnya.

Banyak sekali orang baik di dunia ini, tanpa saya menafikan bahwa orang jahat juga sama banyaknya. Tapi saya yakin masih banyak orang baik di dunia ini, mungkin kadang juga ia bisa menjadi jahat karena terpaksa dan situasi yang tidak mendukungnya menjadi baik. Tapi apakah Anda, mungkin juga saya banyak menemui orang mulia? Sulit, sangat langka saya kira. Tetapi tidak terlalu langka juga sebab pada kenyataannya setiap orang menghadapi problema yang bervariasi. Menurut saya, ukuran kemuliaan tidaklah mutlak, ia sangat relatif dan kadang orang tak selalu menampakkan dan tidak juga perlu menampakkan kemuliaan. Inilah saya katakan mengapa langka menemukan orang yang mulia.

Saya ambil contoh kasus pada seorang istri/suami yang sangat baik mengurus rumahtangga. Banyak orang yang mampu seperti ini dan dan saya katakan orang baik itu banyak sekali. Tapi ketika si suami/istri menderita lumpuh atau mandul dan si suami/istri masih setia, apakah berlebihan jika saya katakan dia mulia? Mungkin orang tidak akan terlalu peduli apakah dia mulia atau tidak, padahal sesungguhnya dia sama mulianya dengan dermawan kaya yang mau merawat anak yatim. Nampaknya masyarakat kita kadang terlalu sempit mendefinisikan kata mulia ini. Oleh sebab itu ia menjadi barang yang langka menemukan orang yang mulia meski ia banyak beredar di sekeliling kita.

Pada kondisi tertentu, orang menjadi mulia tanpa ia harus menganggap dirinya mulia. Saya katakan sekali lagi, menjadi orang baik itu mudah, tapi menjadi mulia?? Tidak semuanya mampu. Dan itu wajar karena setiap orang memiliki kualitas kepribadian yang berbeda.

Ketika Harapan Tak Seindah Kenyataan


Lihatlah judul tulisan saya di atas. Apa yang terbayang dalam benak Anda? Saya tidak akan membatasi imajinasi Anda. Namun konotasi yang timbul dari kalimat itu tetaplah sesuatu yang tidak menyenangkan bukan?! Mungkin mendekati arti kecewa untuk level terendahnya dan mungkin kegagalan dalam level yang lebih tinggi.

Siapapun pasti pernah mengalami kekecewaan pun kegagalan. Hidup kita seolah bersahabat dengan dua hal tersebut, tentu saja masih banyak juga rasa yang lain dalam hidup ini. Itu hanya merupakan sebagian dari nuansa hidup yang harus kita rasakan. Selebihnya, masih banyak tersimpan hal manis di sana.

Pahit memang ketika kita mengalami kegagalan atau kecewa. Dan jikapun kita tidak mengalaminya, namun jika kita melihat orang lain yang kita sayangi mengalami kegagalan maka ikut sedihlah hati kita. Seperti yang saya rasakan tadi malam ketika membaca blog seorang teman lama. Saya sudah lama tidak membuka-buka blog dia, pun kabar tentang dia nyaris tak ada. Dan apa yang saya baca membuat hati saya sedih. Di usia yang masih muda dia harus menerima keadaan terpahit yang harus dialami seorang wanita, yaitu menyandang sebuah status yang tidak pernah ada orang inginkan dalam hidupnya. Entah apa masalahnya, saya kurang paham. Tapi yang jelas saya belajar dari sana bahwa hanya ada satu jalan agar kita tak terlampau sakit hati atas kekecewaan atau kegagalan yang ada. Bersahabatlah dengan keadaan! Mungkin itu cara termudah mengatasi rasa sesal yang ada...

*kepada seorang teman yang tak tersebut namanya: semoga kau sabar dan senantiasa dalam pertolonganNya..

Berani Nikah, Berani Bertanggung Jawab

Siapa orangnya yang tak ingin menikah? Saya yakin secara fitrah semua orang yang normal pasti ingin menikah dan ingin berkasih sayang. Ada orang-orang yang memiliki jalan mulus bak di jalan tol namun ada juga yang harus melewati jalan berliku, menanjak bahkan berjurang-jurang. Tak jarang pula yang harus menghadapi jalan buntu. Ini saya baru bicara masalah pra nikah lo. Lalu pasca nikah? Ya sama saja...bahkan saya bilang perjalanannya malah tambah panjang dan penuh resiko. Ibarat kapal berlayar di tengah lautan, kita tidak pernah tahu apa saja yang bakal terjadi atau menghadang. Yang pasti kita masih bisa berusaha, berharap dan berdoa untuk keselamatan sampai tujuan.
Setelah menikah, berbagai problema yang tak pernah kita duga sebelumnya mulai bemunculan..
Pemicunya bisa dari dalam (konflik internal) maupun karena adanya pihak luar yang memperkeruh suasana.

Pembaca...
Dalam setiap langkah orang yang memutuskan untuk menikah, maka hanya ada satu jalan agar ia bisa merasa nyaman dengan keputusan yang dibuatnya. Dengan segala kemungkinan yang bakal menghadang dan dengan segala keterbatasan sumberdaya maka sikap OPTIMIS, KOMITMEN yang kuat dan DO'A yang baik adalah kuncinya...

* dan jangan pernah ragu untuk menikah (meski dengan 1001 resiko yang menghadang)...

Alhamdulillah...

Alhamdulillah, jadi juga blog saya ini..
Daisypath Vacation tickers